isu yang kini sedang marak di masyarakat indonesia utamanya di kampus saat ini adalah isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada tanggal 1 april 2012. sebuah kebijakan yang menurut saya pribadi kurang ataupun tidak berpihak pada masyarakat kecil, karena apa? kenaikan BBM tentunya akan diikuti atau berimbas pada kenaikan barang-barang yang lainnya. yang jelas kesemuanya itu tentu akan menjerat atau menyiksa pada masyarakat, utamnya pada masyarakat menengah kebawah,.
sangat tidak bisa dibayangkan imbas ataupun dampak yang akan terjadi jika BBM naik 33,33% jadi terlaksana. tentunya pada sektor transportasi entah itu transportasi masa maupun pendistribusian barang adalah sektor yang pertama mengalami kenaikan lalu hal ini akan disusul oleh kenaikan harga barang2 kebutuhan yang lain, lantas efek ini akan menjadi efek domino yang mau tidak mau akan membuat kenaikan pengeluarann masyarakat.
namun yang patut kita pertanyakan adalah motif apa yang melatarbelakangi dari kenaikan harga BBM ini. dalam suatu siaran berita di televisi para praktisi maupun politikus senayan berdalih bahwa kenaikan harga BBM ini disebabkan naiknya harga minyak dipasar dunia, namun secara pemikiran masyarakat awam tentu akan berfikir apa hubungan harga minyak dunia terhadap kenaikan BBM? bukankah negara tercinta kita ini merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi? berdasarkan data statistikpun kita juga masuk negara pengekspor minyak bumi?...,, (Hmmm,,Heran)
jika dipikir2 memang agak mengherankan negara pengekspor malah kesulitan dalam mencukupi kebutuhan dalam negeri sendiri ya? mungkin memang negara tercinta kita ini memang sedang kehilangan kedaulatannya, banyak aset2 negara strategis yang seharusnya mampu membuat negara ini makmur tetapi malah di jual ke pihak asing, TAK TERKECUALI MINYAK BUMI... (go to hell pihak asing, negara ini telah lelah kau injak2 semau kalian).
yang lucu adalah apa yang dilakukan pemerintah setelah adanya kenaikan BBM, dana subsidi BBM yang sudah dicabut tersebut dialihkan dengan sistem BLT dan bukannya digunakan membangun infrastruktur yang mampu menaikan perekonomian secara masal, pemerintah malah dengan kebijaksanaannya membagikan BLT kepada masyarakat,. sangat tidak pas jika sistem tersebut diterapkan, alasannya seperti yang dikemukan mantan presiden negeri sebelah bahwa sistem ini akan membentuk mental masyarakat untuk menjadi pengemis, dan juga dalam mekanisme pembagiannya masih banyak kekurangan yang menyebabkan tidak meratanya atau bahkan tidak tepat sasaran. belum lagi tranparasi pembagiannya yang masih diragukan.
menyikapi adanya hal ini ada 2 sikap umum yang mahasiswa tunjukan yaitu ada mahasiswa yang cuek dan apatis dengan keadaan msyarakat sekitar, mereka yang selama ini belum merasakan bagaimana mati-matian mencari uang di negri "gemah limpah loh jinawi" ini tentu hanya berdiam diri ketika ada hal semacam ini, yang mereka tahu hanyalah tiap bulan dapet kirimkan, lalu habiskan, lalu minta lagi. mereka tidak tahu bahwa dampak kenaikan BBM tentulah sangat merepotkan bagi kedua orang tua mereka, (semoga Allah tidak memasukan saya dalam golongan mereka).
adapun sikap yang kedua adalah mereka yang respon atau lakukan tindakan atas isu diatas, respon itu bisa bermacam cara, entah itu prefentif (penyuaraan agar tidak terjadi kenaikan harga BBM misalnya aksi turun ke jalan) ataupun tindakan upaya memperkecil dampak kenaikan BBM, semisal dengan membangun perekonomian daerah ataupun tindakan yang lain. yang jelas jangan lah sampai respon mahasiswa tersebut berlangsung secara anarki, merugikan masyarakat yang lain, dan haruslah masuk dalam koridor hukum yang berlaku di negara tercinta ini..
adapun statemen saya pribadi:
"SAYA MENOLAK KENAIKAN HARGA BBM KARENA INI BUKAN SOLUSI YANG TEPAT BAGI PERMASALAHAN NEGERI INI"
ttd
ALFIAN ACHMAD CHOIRON
sangat tidak bisa dibayangkan imbas ataupun dampak yang akan terjadi jika BBM naik 33,33% jadi terlaksana. tentunya pada sektor transportasi entah itu transportasi masa maupun pendistribusian barang adalah sektor yang pertama mengalami kenaikan lalu hal ini akan disusul oleh kenaikan harga barang2 kebutuhan yang lain, lantas efek ini akan menjadi efek domino yang mau tidak mau akan membuat kenaikan pengeluarann masyarakat.
namun yang patut kita pertanyakan adalah motif apa yang melatarbelakangi dari kenaikan harga BBM ini. dalam suatu siaran berita di televisi para praktisi maupun politikus senayan berdalih bahwa kenaikan harga BBM ini disebabkan naiknya harga minyak dipasar dunia, namun secara pemikiran masyarakat awam tentu akan berfikir apa hubungan harga minyak dunia terhadap kenaikan BBM? bukankah negara tercinta kita ini merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi? berdasarkan data statistikpun kita juga masuk negara pengekspor minyak bumi?...,, (Hmmm,,Heran)
jika dipikir2 memang agak mengherankan negara pengekspor malah kesulitan dalam mencukupi kebutuhan dalam negeri sendiri ya? mungkin memang negara tercinta kita ini memang sedang kehilangan kedaulatannya, banyak aset2 negara strategis yang seharusnya mampu membuat negara ini makmur tetapi malah di jual ke pihak asing, TAK TERKECUALI MINYAK BUMI... (go to hell pihak asing, negara ini telah lelah kau injak2 semau kalian).
yang lucu adalah apa yang dilakukan pemerintah setelah adanya kenaikan BBM, dana subsidi BBM yang sudah dicabut tersebut dialihkan dengan sistem BLT dan bukannya digunakan membangun infrastruktur yang mampu menaikan perekonomian secara masal, pemerintah malah dengan kebijaksanaannya membagikan BLT kepada masyarakat,. sangat tidak pas jika sistem tersebut diterapkan, alasannya seperti yang dikemukan mantan presiden negeri sebelah bahwa sistem ini akan membentuk mental masyarakat untuk menjadi pengemis, dan juga dalam mekanisme pembagiannya masih banyak kekurangan yang menyebabkan tidak meratanya atau bahkan tidak tepat sasaran. belum lagi tranparasi pembagiannya yang masih diragukan.
menyikapi adanya hal ini ada 2 sikap umum yang mahasiswa tunjukan yaitu ada mahasiswa yang cuek dan apatis dengan keadaan msyarakat sekitar, mereka yang selama ini belum merasakan bagaimana mati-matian mencari uang di negri "gemah limpah loh jinawi" ini tentu hanya berdiam diri ketika ada hal semacam ini, yang mereka tahu hanyalah tiap bulan dapet kirimkan, lalu habiskan, lalu minta lagi. mereka tidak tahu bahwa dampak kenaikan BBM tentulah sangat merepotkan bagi kedua orang tua mereka, (semoga Allah tidak memasukan saya dalam golongan mereka).
adapun sikap yang kedua adalah mereka yang respon atau lakukan tindakan atas isu diatas, respon itu bisa bermacam cara, entah itu prefentif (penyuaraan agar tidak terjadi kenaikan harga BBM misalnya aksi turun ke jalan) ataupun tindakan upaya memperkecil dampak kenaikan BBM, semisal dengan membangun perekonomian daerah ataupun tindakan yang lain. yang jelas jangan lah sampai respon mahasiswa tersebut berlangsung secara anarki, merugikan masyarakat yang lain, dan haruslah masuk dalam koridor hukum yang berlaku di negara tercinta ini..
adapun statemen saya pribadi:
"SAYA MENOLAK KENAIKAN HARGA BBM KARENA INI BUKAN SOLUSI YANG TEPAT BAGI PERMASALAHAN NEGERI INI"
ttd
ALFIAN ACHMAD CHOIRON














